Tentang hidupku yang walaupun aneh di mata semua orang, tapi layak menjadi rujukan

14 Juni, 2008

Adik Tersayang

2 Februari 2008

Yang aku maksud dengan "tersayang" di sini adalah adik perempuan bungsuku. Bukan berarti aku membeda-bedakan kasih sayang itu di antara adik-adikku, tapi karena rentang umurku dengan mereka yang berbeda-beda tentunya tidak mungkin memperlakukan mereka dengan sama...

Beberapa bulan yang lalu aku baru terbangun setelah "terlelap" selama delapan tahunan akibat suatu "tragedi." Yang pertama kali kuingat adalah dia, sebesar apa dan seperti apa dia sekarang. Tapi setelah lihat dia, aku hanya bisa diam takjub, tidak ada satu kata pun yang bisa kuucapkan. Awalnya adikku itu hanyalah seorang gadis kecil imut berumur 11an tahun, tetapi yang kudapati sekarang adalah seorang gadis cantik berumur 19an tahun! Aku jadi sadar ternyata kuasa Tuhan itu begitu besarnya (khususnya pada diri dia).

Betapa tidak, rasanya baru saja kulihat dia kecil yang masih suka main-main, dia yang masih khas dengan suara kecilnya, dan dia yang masih suka ngompolin aku (karena tidurnya bareng aku), dan dalam sekejab dia berubah sebesar itu, sampai-sampai aku sendiri tidak dapat mengenalinya. Pokoknya tidak ada miripnya dengan yang kulihat sebelum ini. Mungkin ada di antara kalian yang berfikir bahwa ini wajar saja namanya orang lagi tumbuh, tapi bila kalian mengalami sendiri seperti yang kualami niscaya kalian juga akan sama terkejutnya. Dalam banyak hal sifat dia sekarang sangat mirip sifat kakak perempuan dia. Mulai dari cara dia berjalan, berbicara, tersenyum, tertawa, marah, nangis (mungkin, karena aku belum berkesempatan untuk menangiskan dia), sampai cara dia menawarkan irisan mangga yang sedang dia iris ke aku pun persis kakaknya itu. Padahal dulu sifat mereka itu sangat beda. Jadinya aku suka salah memanggil nama dia dengan nama kakak perempuannya itu.

Akhirnya kuputuskan untuk mengganti kata panggilan aku ke dia dengan “ading” (=adik). Sebelumnya aku memanggil dengan nama panggilan kecil dia, tetapi kulihat dia sudah tidak menyukai nama panggilan itu lagi. Sengaja memang aku tidak menggunakan nama yang dia inginkan karena (dengan terpaksa) aku ingin benar-benar memperlakukan dia sebagai seorang adik, bukannya teman. Atau dengan kata lain aku ingin menegaskan ke dia bahwa aku ini adalah kakaknya, kakak yang berhak menggantikan posisi ayah kami.

Dia bagiku begitu misterius. Ada banyak sekali hal yang tidak kuketahui dan ingin kuketahui dari dia. Hal tersebutlah akhirnya yang memaksaku untuk menyelidiki dia lebih jauh. Aku lakukan mulai dari menyimpulkan dari sikap dia, bertanya-tanya pada orang terdekat, sampai pada aku harus lihat barang-barang dia segala. Bahkan diary diapun akhirnya kubuka juga (walaupun hanya lihat-lihat sekilas lalu). Pokoknya apa saja yang berbau dia akan coba kuselidiki.

Aku kurang tahu pasti apa penyebabnya, apakah karena perubahan dia, ataukah karena aku yang sudah semakin dewasa yang memang sudah seharusnya menyayangi dia lebih dari kakaknya. Kalau lagi lihat dia rasanya ingin kurangkul dan dekap saja di pangkuan serta belai dia seperti bisa kulakukan terhadap keponakanku (anak kakak dia) yang berumur 5 tahunan. Tapi tentunya sudah tidak mungkin lagi kan mengingat dia yang sudah segede itu. Kalau ada kesempatan untuk menemui dia akan coba kutemui, kalau ada kesempatan mengobrol dengan dia akan kucoba itu, atau kalau ada kesempatan hanya sekedar memandangi wajah dia akan kulakukan itu dengan memandangi wajah dia sepuas-puasnya

Walaupun selama ini aku telah berusaha mendekati dia, tapi sayangnya sikap dia sering dingin terhadapku, padahal aku telah berusaha bersikap selembut dan semanis mungkin. Dia suka menggerutu bila kuajak/minta sesuatu, atau bila kutanyapun dia menjawabnya dengan kata-kata yang membuat hatiku sedih mendengarnya. Bayangin, aku nanya kaya gini saja "kamu mondoknya di mana dik?" dia jawabnya "...apa kak?, apa urusannya dengan kakak?!!" Dari nada dan ekspresi dia sepertinya dia takut banget kalau-kalau aku bakal datang ke pesantren itu dan membuat onar di sana (hal yang tidak mungkin banget!). Dan bila kudekati dia, dia akan menunjukkan muka yang seakan-akan ingin secepatnya mengenyahkanku dari dia. Pokoknya sulit deh dijelasin semua kesentimenan dia. Kalau sekali-sekali dia seperti itu sih aku tidak ada masalah, tapi kalau begitu terus?...

Aku menyadari aku adalah seorang yang jauh dari sempurna, aku menyadari aku adalah seorang yang begitu naif, dan aku juga menyadari aku bukanlah seorang kakak yang bisa dibanggakan oleh dia (yang mungkin jadi penyebab penolakan dia). Aku menyadari aku belum bisa menjadi pelindung dia dan aku menyadari aku tidak bisa memberi apapun ke dia. Tapi tidak mungkin kan menunggu segalanya berubah dulu menjadi baik-baik (alias aku tanpa masalah lagi) sebelum aku dapat bertindak (walaupun hanya sekedar ngomong ke dia), yang barangkali hanya akan bisa terjadi setelah aku masuk kubur!

Walaupun sakit menerima perlakuan dia, aku tetap berharap itu hanya sementara. Aku juga berharap itu bukanlah sifat aslinya dia karena yang kulihat selama ini sikap dia ke teman-temannya tidak pernah seperti itu (dia terkenal anak yang sangat supel bergaul dan banyak teman). Aku seringkali iri bila melihat dia ngomong-ngomong dengan cerianya ke teman-teman dia (kenapa ya dia jarang bisa bersikap seperti itu terhadapku)...

Aku selama ini memang dapat bersikap setenang dan sewajar mungkin menerima perlakuan dia itu, aku juga tidak pernah menunjukin rasa gundah hatiku ini ke dia, semuanya berjalan seperti tidak terjadi apapun. Namun sebagai seorang kakak tidak mungkin aku mendiamkan saja kalau ada yang tidak sreg pada diri dia (dengan maksud menyenangkan hati dia). Aku terkadang terpaksa menyuruh, meminta, melarang, atau memberi tahu dia sesuatu (walaupun yang kutahu dia tidak suka disuruh-suruh). Tapi itu yang mau-tidak-mau memang harus kulakukan, seperti membangunkan tidur, mengajak makan, atau menyuruh dia solat. Dan semuanya sudah kulakukan dengan suara selembut mungkin. Aku melakukan itu bukan berarti aku merasa lebih baik dari dia, aku malah sangat senang dan bangga bila dia yang pagi-pagi membangunkanku tidur, yang mengajak solat, dan yang mengajakku makan (yang telah dia hidangkan) (jadi menghayal nih).

Terkadang dia mau juga memberikan wajah ceria terhadapku. Betul-betul senang hati rasanya. Kalau dengar suara indahnya terasa bagai segarnya angin penyejuk di kala kelelahan dan keringatan di hari yang panas menyengat. Kalau lihat senyum manisnya terasa seperti melihat bidadari turun dari langit yang memberi senyumannya... Sayangnya semua itu harganya mahal, dia hanya mau memberi dalam kesempatan yang sangat langka

Terlepas dari sikap dia itu, aku tetap berusaha terus mendekati dia. Setiap hari selalu kuusahakan untuk menyapa dia, sekedar tersenyum, atau apa saja lah cuman untuk nunjukin perhatianku. Aku percaya suatu hari nanti sikap dia akan berubah terhadapku... Sekarang ini ibaratnya dia sudah sku tangkap, dan sudah kupegang erat-erat. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya dia akan JINAK juga terhadapku.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

gw rasa adek lu emang punya alasan kuat untuk merasa kesal samma lu. lu bayangin aja, 8 tahun hampir ga ada kabarnya. ga menutup kemungkinan pada masa 8 tahun itu ada saat2 dimana si adek butuh perhatian lu, tapi lu ga pernah ada buat si adek. akhirnya di memutuskan untuk membunuh perasaan "butuh"-nya terhadap elu yat. paling enggak minimal lu butuh waktu 8 tahun juga buat menggantikan semuanya.

ok beberapa tips dari gw :
tips no 1. Sbelum terlambat sebaiknya lu minta maap aja dulu yat sama adek lu atas hilangnya elu selama 8 tahun ini. lu bilang sama dia kalo lu sebenernya pengen jadi seorang abang yang bia dibanggain sama adeknya.minimal ga malu - maluin. lu bilang alesan tentang kehilangan lu (ini cm lu doang yang tau kayanya, dan lu harus jujur tentang alesan ini. jangan di karang2 lho, buat tau lu jujur apa nggak lu liat aja mata lu, kalo nangis berarti betul). di akhir pembicaraan lu bilang juga kalo dia sekarang udah tumbuh jadi gadis yang cantik dan si widi juga bilang begitu.

Tips no 2.
sebelum proses PDKT ada yang namanya perkenalan yat. lu ga bisa samain antara adelu 8 taun lalu dg ade lu yang sekarang. jadi kita anggep aja kalo kalian sama2 belum saling mengenal. dan dalam proses saling mengenal ini lu sama sekali tidak diperbolehkan memakai "CHEAT". cheat itu yg seperti lu lakukan sekarang ini, ngeliat-liat barang orang lain trus ngebaca diarinya walopun hanya sekilas. lu harus buat dia tau bahwa dia aman bersama lu, termasuk rahasia2nya.kalopun lu emang mau liat sebaiknya lu ijin dulu yat, bilang aja kalo lu ga percaya bahwa pada jaman ini masih ada orang yang nulis diary. satu hal lagi yang tidak diperbolehkan pada masa perkenalan ini adalah segala bentuk perintah, suruhan dan larangan. alasanya : karena dia belom mengijikan lu buat masuk dalam kehidupannya dia. lu bayangin aja kalo dulu pas kita baru kenal gw banyak nyuruh2 elu, ato gw sering ngelarang2 elu seperti contohnya "Hayat!! Jangan pipis sembarangan!" kan ga enak didengernya juga.. jadi, tugas pertama adalah merubah perintah menjadi ajakan!.. misalnya dari pada lu bilang "adek, makan!" kan lebih enak kalo lu bilang "Dik, makan yuk, HhhYyuk". dan kalo lu dirumah sering nge-larang2 nti adek lu akan merasa seperti tinggal di hutan larangan.

Tips no 3. (Yag terberat!)
berbicara.. lidah tak bertulang, jangan pernah menggunakan meremehkan kakuatan lidah. kata orang lidah itu lebih tajam dari pedang, dan bisa menghancurkan hati sekeras apapun. disini tidak ada jalan pintas yat! lu harus mulai berbicara dengan adek lu. gw tau, lu bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain. kedekatan lu dengan si fajar aja gw rasa itu dikarenakan kalian satu golongan, betulkan?.. jadi proses yang hampir mirip itu sebenernya adalah perkenalan kita berdua yat. lu tau nggak, bahwa perbincangan2 gw dengan lu itu boleh dibilang pembicaraan terlama yang pernah gw alami. kalo gw pikir2 lagi, gw gak pernah ngobrol berdua lebih dari 30 menit dengan teman kampus tanpa membicarakan sedikitpun tentang kampus..
dalam berbicara ini pun ada tuntunannya yat.. lu jangan lagi pernah menanyakan pertanyaan2 seperti "kamu mondoknya dimana dik?", "kamu sukanya minum apa?".. pokoknya ngga boleh yang depannya pake kata "kamu". karena pertanyaan2 itu bersifat menyudutkan. coba aja kalo ada orang yang nanya ke elu..

M: nama kamu siapa?
H: Hayat
M: Hayat masih kuliah atau udah kerja?
H: ... (apapun jawaban lu pastinya lu akan sedikit menarik diri)

Bandingkan dengan..

H: udah liat berita belom?.. masa SBY ketipu lagi sama padi Supertoy
M: Masa sih?.. kok bisa ya?
H: Gak tau juga kenapa bisa begitu.. tapi yang jelas sama orang yang sama lho ketipunya
M: Masa sih?.. kok bisa ya? (meskipun pembicaraannya sedikit aneh, tapi tidak ada yang menarik diri, yang ada hanyalah PERTUKARAN INFORMASI).

dari proses pertukaran informasi ini, lu bisa menggunakan salah satu keahlian lu, yaitu: menganalisa! kira2 seperti apa ade lu yang sekarang ini


terus, kalopun lu ingin mengajukan pertanyaan "kamu", lu ga boleh mengajukaannya di pertanyaan pertama, seenggak2nya di pertanyaan ke 9 baru lu boleh mengajukan pertanyaan "kamu"
lu jg harus mulai menghapalkan kebiasaan2nya yat. segala ucapan yang pernah dia lontarkan, tingkah lakunya, kesehariannya, bagemana cara dia makan dll.. karena ini adalah amunisi lu!!...
jadi suatu saat lu akan bisa bilang ke adek lu

H :kok tumben dek ga makan.. biasanya jam segini kan kamu udah lapar
M :Lagi gak pengen aja.. emang apa urusan kakak? (dengan ketus ngejawabnya)
H :Nggak, Biasanya kalo kamu jam segini gak makan pasti malemnya nti keluar ya?
M :Iiiihh.. mau tau aja urusan orang! (mulai sebel karena digangguin terus sama kakaknya)
H :Kalo kamu tadi bilang nti malem mau keluar kakakkan ga jadi make handuk kamu, abis handuk kakak kotor sih. lagian kalo kamu ga keluar malem kan sorenya gak mandi (perhatikan penggunaan kata2 :biasanya, jika kamu... maka selanjutnya.. kalo lu ud make kt2 ini lu diharamkan untuk salah!)
M :KAKKAAAKK!!!

akhirnya yang terjadi adalah perkelahian khas kakak-adek.. dan itu adalah sebuah kemajuan!..

Proses ini bisa lu bilang berhasil kalo lu uda bisa ngobrol ngalur-ngidul kira2 1 jam-an sama ade lu. berat memang, tapi siapa yang suruh ngilang 8 thn?.. supaya bisa ngomong selama itu salah satu saran gw adalah : jangan diem kalo ditanya! kaya yang do blog lu pas dia nanya "emang apa urusan kakak?".. nah lu harus jawab!.. dari jawaban lu ade lu nti bisa merasakan yang namanya "antusiasme". dari antusiasme, ade lu bisa merasakan perhatian lu dan dari perhatian ade lu bisa merasakan kasih sayang lu. untuk pertanyaan2 yang bersifat menyudutkan lu seperti ini ada dua hal yang bisa lu lakukan :

pertama. seperti yang pernah di katakan pesepakbola legendaris dari belanda Johan Cruyf "pertahanan terbaik adalah penyerangan".. jadi lu serang balik orang yang udah menyudutkan lu, di pukul balas pukul, mata untuk mata. kalo bukan harga diri, apalagi yang lu punya? toh suatu saat lu pasti mau jadi seorang ayah yang bisa dibanggakan sama anak dan istri lu kan?.. apalagi udah deket lebaran, semua harga pada naek (mudah2an harga diri lu harus jg ikut naek). seperti kata Tong Sam Cong dalam film Legenda Kera Sakti "Anugerah Langit hanya turun pada manusia2 berharga tinggi".

kedua. (mengingat kondisi hub kln lbh baik menggunakan versi yg ini). gabungan jingle sebuah iklan parfum dan kata2 seorang petarung dari daratan cina Bruce Lee menghasilkan kata2 seperti berikut: "Hindari serangan, setelah itu terserah anda". cara terbaik untuk menghindar adalah dengan menggunakan humor, orang ke tiga ato gabungan keduanya. versi humor jawaban dari pertanyaan "emang apa urusan kakak!" adalah "Yee, ditanya gitu aja marah, ntar cepet tua lho,,, cepet keriput, rambut ubanan, kena menopouse, osteoporosis, sakit jantung, pokoknya macem2 deh, kan sayang dek". jawaban versi orang ketiga adalah : "tadi mrs.vi mau masukin anaknya ke pesantren, trs kk bilang kalo adenya kk dl jg mondok, trs kk janji mau ngasih info lebih lanjut ke mrs.vi". jawaban versi gabungan adalah : "gak tau tuh si widi, dia bilang ade tuh aneh, masa tampang santri suka baca buku begituan (msh inget buku gw yg lu minta), jangan2 ade lu dapet doktrin2 aneh di pesantren, emang nyantri dmn dia yat, begitu katanya".. dari ketiganya, versi ketigalah yang paling ampuh dan banyak dicari orang. ha ha.

Ok.. kalo ini uda berhasil, sekali lagi KALO UDA BERHASIL, lu bisa maju ke tahap berikutnya -dan ini yang paling menyenangkan- yaitu : melakukan aktivitas bersama..

aktivitas yang bisa kalian lakukan bersama adalah aktivitas2 yang SALAH SATU dari kalian jago melakukannya.. jadi lu harus tau apa2 aja kelebihan ade lu, dan ade lu jg harus uda tau apa2 aja kelebihan lu, (kl tahap pembicaraan kalian berjalan dgn lancar maka tahap ini akan sangat mudah)

gw gak tau apa2 ttg ade lu, tp yang jelas kalo lu itu jago sama hal2 yang berbau komputer. jadi contoh aktivitas bersama kalian adalah : membuat blog.

pada suatu sore di sebuah pulau bernama kalimantan..
H: lagi ngapain dek?
M: lagi nulis diary
H: liat dong
M: Gak boleh!..
...hening (terjadi situasi yang aneh dengan energi negatif dmn2)...
H: (berusaha memecah keheningan) jaman sekarang udah gak model lagi dek nulis 2 diary kaya gitu
M: ... (msh diem)
H: sekarang tuh jamannya BLOG! (dengan penuh semangat. sehingga energi2 negatif disekitar langsung hilang)
M: Blog itu apa kak? sejenis makanan?
H: Bukan, tapi ... (mulai berbicara panjang lebar tentang blog dan diakhiri dengan) kalo mau kakak bisa bantu kamu buatin blog..
M: yang bener kak? maksih ya..

and that's how the story goes.. the end

Acunk mengatakan...

Wid, cerita tadi hanya luapan emosiku di saat baru bertemu dia. Setelah kenal keadaannya jadi berubah, termasuk prioritas tindakanku padanya (walaupun dgn caraku ini mkn akan banyak air matanya yg akan kutumpahkan). Tapi kulihat dia enjoi saja tuh dgn apa yg kulakukan sekrg, yg kuanggap sbg penerimaan dia.

Btw, makasih atas tips2nya. Sapa tau bisa kupraktekkan pd "adik2" yg lain :-)