Ini adalah cerita tentang kesenanganku akan mata pelajaran matematika. Mungkin kalian akan berfikir kalau aku mempunyai IQ yang tinggi serta selalu mendapat nilai yang sempurna di kelas. Tetapi tidak juga, nilaiku biasa pas-pasan, kalaupun bisa menjadi yang tertinggi di kelas aku harus belajar ekstra keras untuk mendapatkannya (kenyataannya memang sering begitu ;))
Waktu pertama menyadari kalau aku paling menyenangi matematika lebih dari pelajaran lain tentunya adalah waktu pertama sekolah hehehe... Tetapi semakin terasa setelah aku duduk di kelas satu SMP, karena pada saat itu hampir semua mata pelajaran lain telah menjadi momok, dan memang hanya matematikalah yang benar-benar terasa beda... (sorri kalau aku tidak bisa bilang "menyenangkan", soalnya guru matematikanya sendiri sangat membosankan, malahan bisa dibilang payah!).
Bila bicara soal momok, mata pelajaran olah raga adalah rajanya! Sebetulnya yang paling ku benci itu hanya permainan-permainan yang yang ada unsur bolanya (bukan berarti cabang-cabang yang lain itu bisa, tapi setidaknya masih bisa menikmati kalau terpaksa melakukannya). Tidak tahu juga kenapa, yang jelas kalau lihat bola rasanya seperti lihat ular saja. Sayangnya yang bola-bolaan ini yang paling banyak disukai orang-orang (juga di sekolah) untuk dimainkan. Karena bencinya itu aku jadi tidak pernah benar kalau disuruh melakukannya. Bayangkan saja, untuk menyervis bola voli saja say tidak bisa! Kalaupun dipaksa ikut main palingan juga menjadi perusak suasana permainan. Soalnya kalau ada bola datang bisanya orang rifleks mengejar, tapi aku rifleksnya menghindar!
Pada waktu masuk jam pelajaran olah raga aku biasa berlama-lama masuk ke lapangan, kalau perlu paling akhir, dan selesainya kalau bisa paling awal atau cabut saja di tengah-tengah bila memungkinkan. Aku juga terkadang membolos kalau merasa tidak mod banget atau hanya karena alasan sepele seperti hujan rintik-rintik. Pernah suatu ketika sesampai di lapangan aku dapati teman-teman pada tidak ada, biasanya kalau sunyi gitu mereka pada main voli di gelanggang. Yang ada hanya bapak guru olah ragaku seorang yang sudah siap dengan ancang-ancangnya! sepertinya sengaja menungguiku. Benar saja, beliau ternyata ingin mengujiku karena pada ujian olah raga minggu sebelumnya aku tidak hadir. Sial banget! kalau tahu begitu aku mungkin tidak hadir saja. Tapi apa boleh buat, untuk lari kabur sudah tidak mungkin lagi kan?
Ujian pertama adalah basket, aku lupa mengapain saja waktu itu, yang jelas beberapa saat mencoba bapaknya menyuruh berpindah ke voli saja. Di sini karena ketidak bisaan menyervis bola itu, aku harus di ajarin segala sama beliau, tapi tidak pernah bisa-bisa juga. Sialnya lagi teman-teman pada sudah bermunculan, aku merasa seakan aku jadi tontonan saja, apalagi beliau mengajarinya sambil ngomel-ngomel keras banget. Malah akhirnya ada teman yang lagi nonton sempat ikut-ikutan segala ngajarin tapi tetap nihil juga. Tidak tanggung-tanggung, itu berlangsung hingga berakhirnya jam pelajaran olah raga! Bayangin saja betapa sabarnya beliau.
Waktu di kelas dua SMP aku duduk sebangku dengan seorang anak yang walaupun badannya kecil tapi sangat menyukai olah raga. Aku sempat iri juga sama dia, soalnya dari segi fisik tidak ada lebihnya dia dibandingkanku. Kalau bicara dia, aku jadi teringat kejadian yang bagiku lucu banget. Yaitu kalau ujian yang pilihan ganda dia itu terkadang suka cabut-cabut huruf yang telah digulung dan diletakkan di saku dia, kaya arisan saja. Tapi ada satu hal yang aku bangga dari dia, dia itu paling pantang nyontek walaupun dia terlihat tidak bisa menjawab soal, padahal aku meletakkan jawabanaku di tempat yang mudah terlihat dia. Mungkin dia ingin nunjukin bahwa inilah kemapuan dia yang sebenarnya, tanpa harus mendapatkan nilai dengan cara-cara yang curang.
Di kelas dua SMP itu untungnya aku dapat guru matematika yang enak banget mengajarnya. Setiap tiba waktu pelajarannya selalu ku nantikan dengan berseri-seri. Pernah di tengah kegiatan pelajaran olah raga, aku lihat beliau berjalan di lorong kelas mau mengajar, aku jadi terpana melihatnya... rasanya aku iri banget sama yang mau diajar itu, aku jadi melamun sejenak membayangkan yang mau diajar itu adalah kelas kami. Rasanya pengen banget, apalagi aku sedang berada di tengah penderitaan di tengah aktifitas pelajaran olah raga.
Bagiku, inti kenikmatan matematika itu terletak pada berhasilnya aku mengerjakan soal-soal dengan baik. Tapi tentunya bukan soal-soal yang berat-berat amat mengingat tingkat kemampuanku yang terbatas itu. Makanya setelah lulus SMU aku tidak pernah berfikir untuk mendalaminya dengan kuliah pada jurusan yang berhubungan dengan keilmuan matematika tersebut. Rasanya cukuplah hanya sekedar menyenaginya saja.
Walaupun dengan keterbatasan tersebut, aku tetap mematok target yang cukup tinggi untuk nilai ebtanas SMU. Tidak ada salahnya dong, apalagi itu disertai dengan usahaku dengan belajar dengan sangat keras. Tapi apa boleh dikata, aku gagal total mewujudkannya! Kenyataannya nilai matematikaku malah yang terendah di antara mata pelajaran yang lain, termasuk biologi dan bahasa inggris yang juga selalu menjadi momok. Kalau boleh ku sebutkan nilainya cuma 5.00! Tetapi semua itu tidak pernah menjadi masalah bagiku, dan tidak juga aku jadi membenci matematika. Buktinya aku masih selalu menyenanginya. Kalau ada kesempatan aku masih suka baca-baca lagi atau sekedar mencoba menyelesaikan beberapa soal latihan.
14 Juni, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar