22 Oktober, 2008
Persinggahan Terakhir
Entah mengapa sore ini kok rasanya bete banget. Makanya aku bermaksud jalan-jalan ke tempatnya widi. Sayangnya dia tidak ada tanda-tanda mau membukakan pintu buatku... Tapi tanpa patah arang kucoba lagi pencet belnya (karena aku tahu dia lagi ngumpet di dalam!). Tapi tiba-tiba seekor anjing penjaga yang galak banget datang menyambut, yang membuatku harus lari terbirit-birit. Halo Wid? ;-)
16 Oktober, 2008
Pemuja Rahasia (Cerita dan Pandangan Cinta Seorang Cowok Koper)
Di awal September kemarin aku mulai kuliah lagi di kampus baru dan dengan semangat baru, serta teman-teman yang juga baru dengan wajah-wajah yang masih fresh. Rasanya balik lagi ke masa 9 tahunan yang lalu tapi kali ini dalam nuansa yang sangat berbeda.
Kuliah hari pertama terasa menyenangkan. Penyebanya selain karena aku memang suka bidang ini, juga... gara-gara cewek ;-). Entah mengapa (secara sengaja) waktu itu mataku tertuju padanya. Padahal hati kecilku sudah berusaha mengatakan "tidak!" namun otakku ini yang sulit diajak kompromi. Wajar sajalah karena dia memang cantik, juga putih dan manis, walau agak berjerawat tapi terlihat semakin manis dan dengan rambut (yang awalnya) diikat itu, yang membuatku tertegun sesaat. Aku sebelum ini tidak pernah percaya dengan cinta pandangan pertama, dan kini harus aku akui itu setelah hatiku terjatuh lagi (untuk kesekian kali).
Aku tidak pernah mengharapkan cintanya, apalagi memilikinya. Aku menyadari keadaanku yang tak seharusnya untuk dia. Bukannya aku bermaksud ingin merendahkan diriku sendiri, tetapi aku memang betul-betul tidak tega (bahkan sekedar mengangankan) untuk membawanya hidup di dalam kehidupanku. Makanya cinta ini hanya kuanggap sebagai "bonus," sebagai pemacu semangatku dalam belajar dan yang membuat hari-hariku terasa lebih hidup. Akan kubiarkan saja ini seperti air yang mengalir, sampai suatu saat cinta ini akan hilang juga dengan sendirinya.
Orang sering berkata "lebih baik sakit karena gagal, daripada tidak karena memang tidak pernah mencoba." Aku sependapat dengan hal itu, tapi tidak untuk cinta. Karena bila itu harus kulakukan, terus untuk apa? pacaran? NO WAY!
Aku menikmati keadaanku sekarang, meskipun hanya sebagai pemuja (rahasia) dia. Walau bukan sebagai pemuja yang baik (karena memang tidak ada yang kulakukan), tapi aku bangga bisa mencintai (banyak) wanita. Aku bangga bisa mengendalikan rasa cinta dan kalau perlu melemparkannya jauh-jauh (hehe.. kaya batu aja).
Bagiku cinta itu penuh tipuan, yang dapat menutupi hati dan mata seseorang akan kebenaran. Yang terlihat hanya fatamorgana keindahan cinta. Di mata kalian hanya nampak seorang bidadari yang cantiknya tak terkata, yang sempurna tiada cacat, dan kalian sudah tidak mungkin bisa melihat "borok" di balik itu semua.
Yang mudah jadi korban dengan itu semua adalah justru kaum wanita. Kalau kita dengan akal sehat kita masih bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya di balik fatamorgana keindahan itu, dan mengambil jalan yang tepat. Tapi tidak bagi wanita, emosi mereka tidak akan sanggup menolong mereka, dan mereka akan betul-betul celaka tanpa bimbingan seorang laki-laki (baca ayah).
Kalian tentunya masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu di suatu daerah tentang sepasang anak belasan tahun yang masih SD yang menghebohkan. Si cewek dibawa kabur oleh si cowok ke rumah orang tuanya (yang namanya cewek dia mau-mau saja). Kepada orang tunya, sang cowok minta dinikahkan dengan gadis "cinta abadinya" itu, atau kalau tidak dia akan bunuh diri. Setelah beberapa bulan pernikahan, dia menceraikan istrinya dengan alasan "sudah bosan!"
Aku tidak pernah percaya dengan model cinta abadi ala romeo-juliet. Bagiku keabadian cinta mereka hanya palsu dan janji-janji cinta mereka untuk sehidup semati semuanya hanya dusta! Menyedihkannya, model cinta-cintaan seperti ini banyak ditiru anak-anak ABG masa kini. Mereka menempatkan cinta mereka di atas segalanya. Bahkan seringkali mereka lupa akan Tuhan mereka yang harusnya lebih mereka cintai dari siapapun.
Dengan tulisan ini bukan berarti aku seorang penentang cinta. Aku menerima akan cintaku, atau berusaha mengenyahkannya bila aku menyadari telah mencintai seorang yang tidak seharusnya kucintai. Dan aku bersyukur banget dengan hanya diam, aku seringkali berhasil melaui cobaan-cobaan cinta ini.
Suatu hari nanti, kalau memang sudah saatnya, aku akan datang ke orang tua seorang cewek yang sudah kukenal sebagai seorang cewek yang baik. Tanpa memandang cinta, akan aku lamar dia. Kalau mereka menerima, aku bersyukur. Kalau tidak, aku akan terima dengan lapang dada, karena aku percaya mereka telah memikirkan matang-matang (dengan akal sehat tentunya) apa yang terbaik buat putrinya.
Kuliah hari pertama terasa menyenangkan. Penyebanya selain karena aku memang suka bidang ini, juga... gara-gara cewek ;-). Entah mengapa (secara sengaja) waktu itu mataku tertuju padanya. Padahal hati kecilku sudah berusaha mengatakan "tidak!" namun otakku ini yang sulit diajak kompromi. Wajar sajalah karena dia memang cantik, juga putih dan manis, walau agak berjerawat tapi terlihat semakin manis dan dengan rambut (yang awalnya) diikat itu, yang membuatku tertegun sesaat. Aku sebelum ini tidak pernah percaya dengan cinta pandangan pertama, dan kini harus aku akui itu setelah hatiku terjatuh lagi (untuk kesekian kali).
Aku tidak pernah mengharapkan cintanya, apalagi memilikinya. Aku menyadari keadaanku yang tak seharusnya untuk dia. Bukannya aku bermaksud ingin merendahkan diriku sendiri, tetapi aku memang betul-betul tidak tega (bahkan sekedar mengangankan) untuk membawanya hidup di dalam kehidupanku. Makanya cinta ini hanya kuanggap sebagai "bonus," sebagai pemacu semangatku dalam belajar dan yang membuat hari-hariku terasa lebih hidup. Akan kubiarkan saja ini seperti air yang mengalir, sampai suatu saat cinta ini akan hilang juga dengan sendirinya.
Orang sering berkata "lebih baik sakit karena gagal, daripada tidak karena memang tidak pernah mencoba." Aku sependapat dengan hal itu, tapi tidak untuk cinta. Karena bila itu harus kulakukan, terus untuk apa? pacaran? NO WAY!
Aku menikmati keadaanku sekarang, meskipun hanya sebagai pemuja (rahasia) dia. Walau bukan sebagai pemuja yang baik (karena memang tidak ada yang kulakukan), tapi aku bangga bisa mencintai (banyak) wanita. Aku bangga bisa mengendalikan rasa cinta dan kalau perlu melemparkannya jauh-jauh (hehe.. kaya batu aja).
Bagiku cinta itu penuh tipuan, yang dapat menutupi hati dan mata seseorang akan kebenaran. Yang terlihat hanya fatamorgana keindahan cinta. Di mata kalian hanya nampak seorang bidadari yang cantiknya tak terkata, yang sempurna tiada cacat, dan kalian sudah tidak mungkin bisa melihat "borok" di balik itu semua.
Yang mudah jadi korban dengan itu semua adalah justru kaum wanita. Kalau kita dengan akal sehat kita masih bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya di balik fatamorgana keindahan itu, dan mengambil jalan yang tepat. Tapi tidak bagi wanita, emosi mereka tidak akan sanggup menolong mereka, dan mereka akan betul-betul celaka tanpa bimbingan seorang laki-laki (baca ayah).
Kalian tentunya masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu di suatu daerah tentang sepasang anak belasan tahun yang masih SD yang menghebohkan. Si cewek dibawa kabur oleh si cowok ke rumah orang tuanya (yang namanya cewek dia mau-mau saja). Kepada orang tunya, sang cowok minta dinikahkan dengan gadis "cinta abadinya" itu, atau kalau tidak dia akan bunuh diri. Setelah beberapa bulan pernikahan, dia menceraikan istrinya dengan alasan "sudah bosan!"
Aku tidak pernah percaya dengan model cinta abadi ala romeo-juliet. Bagiku keabadian cinta mereka hanya palsu dan janji-janji cinta mereka untuk sehidup semati semuanya hanya dusta! Menyedihkannya, model cinta-cintaan seperti ini banyak ditiru anak-anak ABG masa kini. Mereka menempatkan cinta mereka di atas segalanya. Bahkan seringkali mereka lupa akan Tuhan mereka yang harusnya lebih mereka cintai dari siapapun.
Dengan tulisan ini bukan berarti aku seorang penentang cinta. Aku menerima akan cintaku, atau berusaha mengenyahkannya bila aku menyadari telah mencintai seorang yang tidak seharusnya kucintai. Dan aku bersyukur banget dengan hanya diam, aku seringkali berhasil melaui cobaan-cobaan cinta ini.
Suatu hari nanti, kalau memang sudah saatnya, aku akan datang ke orang tua seorang cewek yang sudah kukenal sebagai seorang cewek yang baik. Tanpa memandang cinta, akan aku lamar dia. Kalau mereka menerima, aku bersyukur. Kalau tidak, aku akan terima dengan lapang dada, karena aku percaya mereka telah memikirkan matang-matang (dengan akal sehat tentunya) apa yang terbaik buat putrinya.
Langganan:
Postingan (Atom)